Wednesday, October 2, 2013

gunung tambakruyung



                “Gunung Tambakruyung? Dimana tuh…?” Mungkin kalimat tanya itu yang akan terdengar ketika seseorang mengatakan hendak mendaki gunung dengan ketinggan 1994 mdpl itu. Tambakruyung, sebuah puncakan yang terletak di daerah administrasi kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung ini memang kurang terkenal di kalangan penggiat alam secara umum. Strukturnya yang terjal dan jalur yang samar bahkan nyaris hilang serta banyaknya percabangan menjadi salah satu faktor mengapa gunung Tambakruyung jarang didaki.
           
punggungan tambak ruyung
               Transportasi untuk menuju ke sana tidak terlalu menguras kocek. Dari terminal Leuwi Panjang anda dapat menumpang bis atau elf jurusan Ciwidey dengan biaya sekitar Rp. 10.000 (tarif berlaku ketika bahan bakar premium seharga Rp. 6.500). Sampai di terminal Ciwidey anda dapat melanjutkan perjalanan dengan menyewa ojek berbiaya sekitar Rp. 20.000 atau bila tim anda terdiri dari banyak orang, anda dapat menyewa angkot dengan biaya sekitar Rp. 65.000.
             
                  

Tuesday, June 25, 2013

Gowes Bandung - Jakarta

Jam menunjukan pukul 04.00 di kosan ku di Dayeuh Kolot, Bandung. Aku mengecek kembali kelengkapan untuk trip hari ini. Jersey sepeda bertuliskan “Giant”, celana padding, tas, sleeping bag, dan kotak perkakas, helm, semua telah komplit. Sembari menunggu azan subuh, aku mengelap helm kuning yang akan ku kenakan. Hari ini aku akan melakukan hal yang sedikit agak menyentuh ranah anti mainstream, aku akan bersepeda dari Bandung menuju Jakarta dengan memilih jalur Puncak, Bogor untuk ditempuh.
perbatasan Cianjur Bogor

Wednesday, June 5, 2013

Nggenjot Si Mia


                Pagi itu, sekitar pukul 06.00, matahari masih enggan untuk terbit di bumi Parahyangan. Tapi aku, dengkulku, dan sepedaku sudah siap untuk memutar roda. Hari itu adalah hari minggu, dan aku berencana akan gowes ke jalan Ir. H. Djuanda, Dago, untuk sekedar refreshing dan menikmati suasana  car free day” serta sedikit olahraga santai. Tanpa banyak persiapan, pedalpun ku kayuh dari tempat tinggal ku di Bojongsoang dengan semangatnya. Kadang pelan, kencang, ganti gigi, sampai ganti gaya pun dilakukan untuk mencoba-coba settingan yang pas untuk “si mia”, sepeda ku.

cekungan bandung dan langit birunya

Tuesday, May 21, 2013

Romantika di pegunungan tenggara ibukota


Sepertinya mobil yang ku tunggu tiba. Mini bus silver dengan kaca di samping supir yang terbuka berjalan lambat menyelinap disela-sela kendaraan yang terparkir, mencari tempat yang telah kami sepakati sebagai meeting point. Dan tampak dari kejauhan mobil itu berhenti di sebuah warung yang berada di area parkir kawasan cibodas, tempat pendaki biasa beristirahat sebelum memulai pendakian. Tak lama kemudian, beberapa orang keluar dari mobil itu. Salah satunya adalah seseorang yang membuat udara dingin malam itu mendadak hangat dan suasana malam yang riuh oleh celotehan para pendaki menjadi terasa hening di telingaku. Seseorang yang telah lama ku nanti sosoknya dengan sorot mata sayu yang mampu menyelami setiap seluk kehidupan. Seseorang yang dengan ajaib memaksa kornea mataku menjadi seperti teropong senapan seorang penembak jitu yang tak akan melepaskan jangkauan lensa dari intaiannya. Seseorang yang mampu memutar arah angin hingga menuju ke sisi barat.

eidelweiss dengan kompas dan embun yang menggantung

Thursday, April 25, 2013

i don't love you - my chemical romance


Well when you go 
Don’t ever think I’ll make you try to stay 
And maybe when you get back 
I’ll be off to find another way

When after all this time that you still owe 
You’re still, the good-for-nothing I don’t know 
So take your gloves and get out 
Better get out 
While you can

When you go 
Would you even turn to say 
"I don’t love you 
Like I did 
Yesterday"

Sometimes I cry so hard from pleading 
So sick and tired of all the needless beating 
But baby when they knock you 
Down and out 
It’s where you oughta stay

And after all the blood that you still owe 
Another dollar’s just another blow

So fix your eyes and get up 
Better get up 
While you can 
Whoa, whooa

When you go 
Would you even turn to say 
"I don’t love you 
Like I did 
Yesterday"

Well come on, come on
When you go 
Would you have the guts to say 
"I don’t love you 
Like I loved you 
Yesterday"

I don’t love you 
Like I loved you 
Yesterday

I don’t love you 
Like I loved you 
Yesterday


Tuesday, April 23, 2013

GUNUNG SALAK, PERJALANAN TERAKHIRKAH?


                Gunung Salak, merupakan sebuah bentukan bumi yang mengerucut dengan dua puncakannya yang terletak di kabupaten Sukabumi. Puncak Salak I dengan ketinggian 2210 mdpl merupakan puncakan Salak yang sering didaki, sedangkan Puncak Salak II memiliki ketinggian 2180 mdpl. Gunung salak termasuk dalam wilayah Taman Nasional Gunung Halimun Salak.
                Hari itu aku bersama seorang sahabat membulatkan tekat untuk mendaki gunung yang dikenal angker itu. Hanya berdua. Perjalanan ini bisa jadi merupakan perjalanan terakhir dengannya mengingat sahabat ini lebih dulu menyelesaikan kuliahnya mendahului aku yang bisa diartikan bahwa dia akan berganti dunia. mulai merangkak menuju dunia luar yang lebih luas, mengambil tanggung jawab baru yang akan menyita banyak sekali waktunya. Walaupun aku berharap ini bukan yang terakhir. Dan aku percaya ini bukan perjalanan terakhirku bersamanya.
                Langkah kami dimulai dari pos pendakian gunung Salak di Bumi Perkemahan Cangkuang, Cidahu. Setelah menyelesaikan perizinan kami berhenti sejenak di sebuah warung untuk mengisi perut, kemudian menyusuri jalan beraspal hingga pintu masuk jalur pendakian gunung Salak.  Selepas pintu masuk pendakian, medan berubah menjadi jalan setapak menanjak dengan batu-batu yang tersusun rapi. Sejauh ini kami masih melalui jalur yang benar, sama seperti jalan setapak yang tergambar di peta yang kami bawa.
               

Sunday, April 7, 2013

PENGABDIAN UNTUK CIMONYONG


                Mentari telah singgah ke peraduannya di ufuk barat bumi. Aku baru saja tiba di base camp panitia, sebuah rumah kecil yang terbuat dari kayu dengan lantainya yang menggantung 50 cm di atas tanah. Kami menumpang rumah warga setempat untuk bermalam sekaligus menjadikannya base camp. Kami di sini, terlibat dalam suatu acara bertajuk pengabdian masyarakat dari Astacala untuk Cimonyong. Mencoba berbagi dengan keterbatasan dan kelebihan yang kami punya.
            
               Dusun itu bernama Karang Sari, namun dahulu kala wilayah tersebut dikenal dengan nama Cimonyong. Konon nama tersebut diperoleh dari perilaku penduduk sekitar yang kerap memajukan mulut mereka (monyong) untuk meniup tungku berbahan bakar kayu kering. Dusun yang indah dengan 3 air terjun dan rimba yang masih terjaga dengan arifnya. Dimana kita bisa mengintip laut di antara bukit yang menjulang. Jauh dari aroma modernisasi dan segenap kemunafikan yang dilahirkannya. Ketika pagi hari, matahari menelusupkan sinarnya dengan indah di sela padi yang mulai menguning.

pemandangan sawah

SD Cimonyong

terasering