Showing posts with label love is. Show all posts
Showing posts with label love is. Show all posts

Thursday, December 26, 2019

PENGALAMAN CAMPING BERSAMA ANAK BALITA (CAMPING PERTAMA KAILASH)

Sudah lama aku tidak merasakan sejuk udara pegunungan dalam hangatnya tenda karena ada saja kendala yang datang untuk pergi berkemah. Di akhir tahun 2019 ini ada libur panjang rupanya. Anaku, kailash, pun sudah satu setengah tahun usianya, aku rasa sudah bisa diajak camping. Dan kebetulan juga ada acara penutupan Pendidikan Dasar Astacala, organisasi pecinta alam yang aktif ku ikuti selama kuliah di Ranca Upas. Waktu, tempat, dan kondisi sudah pas, aku dan istri sepakat untuk camping bersama si kecil.


Awalnya kami khawatir jika mengajak kailash, namun kekhawatiran itu kami kikis dengan melakukan persiapan yang matang. Kami mulai mengumpulkan informasi dan melakukan persiapan peralatan camp agar kailash tidur nyaman di tenda, serta merancang menu makanan apa saja yang akan kita masak untuk kailash.

Hari yang dinanti tiba, tangal 23 desember 2019 dini hari kami bertolak dari Jakarta menuju Ranca Upas di Bandung. Perjalanan memakan waktu 3 jam, terbilang cepat dari yang biasanya 5 jam. Mungkin ini karena telah rampungnya proyek tol cikampek elevated yang bisa memangkas waktu tempuh.

Wednesday, September 17, 2014

CINTA DAN VESPA

            Malam itu jalan sekitaran kampus di sudut kota bandung sekitar pukul 8 malam masih hiruk pikuk. Jalanan selebar dua mobil itu di ramaikan aneka pedagang makanan dengan pembeli yang rata-rata mahasiswa. Kami berdua sedang memesan bubur ayam. Ya, kami, aku dan seorang gadis yang beberapa bulan ini dekat sukses membuat hati ini bagai toko bunga, warna-warni indah. Sambil menunggu pesanan selesai di bungkus, dia bercerita tentang rencananya mengunjungi kakaknya di Depok.

“eh kak, jumat ini kayanya aku mau ke Depok nih kalo jadi”, katanya.

Refleks, akupun menyahut,”ayo, sekalian ambil si Mbah”.

“iya, iya kak. Kita sekalian ambil si mbah”, jawabnya sambil tersenyum.
          
         Sudah lama kami berdua berencana untuk melakukan perjalanan dari Depok ke Bandung mengendarai si Mbah. Si Mbah, vespa tua kelahiran tahun 1966 ini berperawakan gemuk bak putri lebah, dengan lampu depan bulat, dan berwarna putih merah seperti bendera Indonesia. Mungkin ini yang mau ditunjukan si Mbah bahwa nasionalisme dapat tumbuh di mana saja, pada siapa saja bahkan pada seonggok motor vespa. Sebenarnya vespa ini milik senior ku di kampus namun sudah sekitar satu tahun lebih di amanahkan padaku dan ku rawat selalu.

Thursday, May 22, 2014

QUOTE SUPER DARI BAPAK

Bapakku seorang pegawai negeri sipil biasa. Seperti kebanyakan pegawai negeri, hari-harinya di habiskan dengan bekerja di kantor tiap hari senin sampai jumat. Nah, dua hari liburnya biasa dihabiskan dengan berkumpul bersama keluarga. Sabtu pagi biasanya dia membeli sayuran ke pasar bersama anaknya. Ikan segar, pisang kepok, kangkung, atau berbagai sayuran yang sekiranya tidak sempat dibuatkan ibuku pada hari hari biasanya karena ibuku tidak sempat ke pasar. 

Dua anaknya yang bandelnya bukan main juga ikut membantu menyiangi sayuran, memarut kelapa, memegangi ayam hidup yang hendak dipotong, atau mengiris bawang. Ibuku bagian eksekusi masakan setelah semua bahan siap dihajar dalam wajan atau panci. Sambil menunggu masakan matang, aku, bapa, dan adikku biasanya utak atik pot tanaman hias sembari ngopi. Nah, pada momen seperti inilah biasanya kami bertiga bercerita, berkonfrontasi, berdiskusi, bahkan kriminalisai dengan bebas tanpa ibu. Maklum, ibu orang yang lurus, jadi mungkin akan protes ketika ketiga lelaki ini ingin bertindak yang agak nyeleneh seperti mengambil mangga tetangga, ngomongin orang, atau nggodain anak gadis yang lewat.


Wednesday, November 27, 2013

Rembulan dan Pemulung Sinarnya



Sepertinya beberapa satuan waktu silam media blog ini berisikan tentang petualangan, pengalaman menembus bentang alam, ataupun kisah tentang bekerjanya adrenalin lebih keras dari biasanya. Bagaimana kalau kali ini kita meracau kacau tentang rembulan dan pemulung sinarnya? Setujukah kalian semua? Bagaimana? Hahahaha...terserah kalian terkait pemikiran kalian tentang kata setuju atau tidak. Asal kalian tahu, aku sedang ingin, teramat ingin mungkin, membuat tulisan mengenai kisah murahan itu, yang sialnya terinspirasi dari alur peran kehidupan yang terjalani oleh badan ini. Bukan untuk menunjukan apa-apa, hanya agar ruangan yang mengatur perasaan dan logika yang tertanam entah dimana dalam bagian tubuh ini sedikit lega, tidak sumpek seperti jalan-jalan ibukota yang tiap harinya diserbu berbagai jenis kendaraan berbahan bakar fosil yang pada akhirnya membuat ibu bumi kita menangis.



Tuesday, May 21, 2013

Romantika di pegunungan tenggara ibukota


Sepertinya mobil yang ku tunggu tiba. Mini bus silver dengan kaca di samping supir yang terbuka berjalan lambat menyelinap disela-sela kendaraan yang terparkir, mencari tempat yang telah kami sepakati sebagai meeting point. Dan tampak dari kejauhan mobil itu berhenti di sebuah warung yang berada di area parkir kawasan cibodas, tempat pendaki biasa beristirahat sebelum memulai pendakian. Tak lama kemudian, beberapa orang keluar dari mobil itu. Salah satunya adalah seseorang yang membuat udara dingin malam itu mendadak hangat dan suasana malam yang riuh oleh celotehan para pendaki menjadi terasa hening di telingaku. Seseorang yang telah lama ku nanti sosoknya dengan sorot mata sayu yang mampu menyelami setiap seluk kehidupan. Seseorang yang dengan ajaib memaksa kornea mataku menjadi seperti teropong senapan seorang penembak jitu yang tak akan melepaskan jangkauan lensa dari intaiannya. Seseorang yang mampu memutar arah angin hingga menuju ke sisi barat.

eidelweiss dengan kompas dan embun yang menggantung

Wednesday, December 12, 2012

Angin Barat


Seperti kata pepatah lama, “hidup itu seperti roda, kadang diatas kadang dibawah”. Dan hal tersebut berlaku pada setiap kehidupan manusia. Sialnya, tidak terkecuali dengan ku. Di suatu masa aku merasa terbang tinggi dihempas sang awan, mencicipi rasa manis sang pelangi, mengenyam semua warna sang senja dan mencumbui segenap gemintang. Pada suatu masa setelahnya aku seperti terpendam dalam perut bumi dengan segala rasa sakit yang tiba tanpa diminta, dengan segala gelap dan sesak yang serta merta dihadiahkan kepadaku. Selamat datang di hidup.

surya kencana

                Ketika jaya itu datang, segala impian bisa ku wujudkan dengan sekejap mata. Segala kebahagiaan bisa ku beli meski hanya semu. Tak ada yang menghalangi, tak ada yang merintangi, tak ada yang berani. Lepas tawaku, lepas hasratku, lepas hidupku, lepas selepas-lepasnya. Aku punya segalanya, aku punya gelap, aku punya terang. Dan aku melupakan hal yang seharusnya ku kejar, hal yang nyata bukan keinginan semu.
          

Friday, September 28, 2012

jembatan gantung


Waktu menunjukan jam 12 siang dan tiba tiba hand phone blackberry berkoar. Setelah gua tekan tombol bergambar telepon berwarna hijau, di seberang line telepon bersuara, “ron, ke kantor, lu besok pagi brangkat ke bali ya!!”. Desssss, hati berasa campur aduk. Terbayang betapa akan lama gua meninggalkan sosok yang mulai memberi warna pink di tengah-tengah warna hitam di hidup gua. Sosok yang mulai menyelamatkan gua dari mati rasa.

Segera gua cari namanya di phone book dan kembali menekan tombol bergambar telepon berwarna hijau. “tuuuuut….tuuuuut…., maaf nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan”. Spontan jari-jari gua mengetik kata – kata melalui keypad qwerty itu. “ (namanya disensor), hari ini bisa ketemu ga? Mungkin bakalan lama lagi kita ketemu setelah hari ini.”. Detik, menit, jam berlalu tanpa ada getaran di gadget berwarna hitam milik gua. Kalap, mobil dinyalakan dan segera meninggalkan bokap yang lagi rapat di kecamatan. Gas diinjak, bagai pembalap F1, melesat cepat di tengah kemacetan Jakarta. 2 motor, 3 mobil, dan 5 gerobak hamper tercium mobil gua. Sampai rumah, mobil berganti motor, berharap mobilisasi segera terlaksana dengan cepat.

Saturday, September 22, 2012

ketika

Wahai laut, aku ingin selalu membelainya.
Seperti ombakmu yang tak hentinya membelai sang pantai
Wahai malam, aku ingin selalu di sampingnya.
Seperti rembulanmu yang selalu menyertai sang bintang di kegelapan.
wahai langit, aku ingin menjadi penyejuk hatinya.
Seperti hujanmu yang ikhlas membasahi panasnya bumi.
Wahai pelangi, aku ingin selalu memebahagiakannya.
Seperti warnamu yang membahgiakan semesta seusai badai reda
Wahai gunung, aku ingin selalu menjaganya.
Seperti lebat rimbamu menjaga eidelweiss di lembah surya kencana.

Tuesday, December 27, 2011

salah strategi (ga ada duanya) part 2

  "sebuah kapal akan aman bila tertambat di dermaga, tapi bukan untuk tujuan itu kapal dibuat"

Monday, December 12, 2011

salah strategi (ga ada duanya) part 1

selesai nyanyi lazy songnya bruno mars tiba tiba tanpa rencana muterlah lagunya ipank yang judulnya sekali lagi dari playlist ade gw di mobil. lagu yang udah lama gw lupain, dan sekarang mengisi kabin dengan pemandangan pinggir pantai anyer dan pohon-pohon kelapa yang berlarian serta angin yang masuk dari jendela mobil yang baru gw buka setelah lagu ini muter. ga sanggup gw melawan setiap jengkal kenangan yang bertubi-tubi menyerang dan berusaha masuk ke otak meminta untuk segera diputar. dan akhirnya, mereka sukses.

film di otak gw diawali dengan munculnya sesosok wanita berkerudung dengan kemeja putih dan rok panjang warna biru dongker berjalan dari lorong sebuah gedung dan menyapa dengan menyodorkan map warna coklat sambil berkata "mana punya lo? masukin trus kumpulin nih". di awal-awal kuliah di bandung, dimana

Friday, November 4, 2011

gradasi antara bahagia dan kecewa

akhirnya tibalah pada suatu titik dimana nafasku berhembus lega
pada suatu diam dimana aku harus memasang tawa
pada suatu gelap dimana aku harus melihat nyata
apa yang seharusnya terjadi, kini ada

    aku tak tahu harus bagaimana?
    tersenyumkah?
    kecewakah?
    bukankah ini yang aku mau?
    entahlah
    semua rasa lebur jadi satu kedalam gradasi warna tak terdefinisi

Thursday, October 20, 2011

semestapun turut tersenyum

                Malam ini, malam dengan suasana yang kurasa tak wajar. Jalan di sukabirus hingar bingar. Para mahasiswa sibuk berlalu lalang dengan berbagai kepentingan. Ada yang mengendarai motor, berjalan kaki, naik sepeda, membawa kertas-kertas, mencari makan, sendiri, berdua, berkelompok, berwajah sumringah, pucat, kesal, tertawa, terdiam, terpaku, dan mungkin menangis dalam tawanya. Para pedagang menjajakan dagangannya seperti biasa. Ya, seperti malam-malam sebelumnya ketika aku menelusurinya bersama seseorang. Seseorang yang mau tak mau harus aku lepas seperti burung gereja yang harus aku lepas agar dia bahagia terbang menyusuri kota yang sesak akan kepenatan.
                Aku merasa seperti manusia planet yang hijrah ke suatu galaxy asing dengan cakrawalanya yang merah maroon. Sunyi, walau sekitar mencitrakan suasana keramaian khas kawasan padat di sudut kota. Senyap, walau angin menciptakan deru yang riuh. Aku terdiam di sebuah rumah besar berpagar hitam dan bertwmbok warna biru dengan struktur bangunannya yang bertingkat. Didepannya terdapat dua tangga yang melingkar ke atas. Di samping kanannya berdiri sebuah mini market bertuliskan blue house.

Tuesday, October 11, 2011

CFD Dago

                Peristiwa kantin di sisi danau telah lama terlewati dan tak ku sangka-sangka ternyata… amat manis. Ditutupnya lakon kesalahpahaman kemarin dengan senyum cair khas putri Lombok yang tersipu ketika angin menyapa. Di hari dimana aku melihatnya kembali, rambutnya dikuncir kuda, hingga kelihatan tengkuknya. Berbaju warna jeruk, bertraining hitam, berspatu sport, dan diputarnya vokal-vokal ceria. Tubuhnya langsing, walaupun dia menganggap itu terlalu kurus, tapi aku menyukainya. Aku berusaha meyakinkan dia kalau semua itu ciptaan Tuhan dan tak pantas kita malu akan anugerahNya.
“Ga usah ga pedean gitu lah”, kataku meyakinkannya. Aku tidak mau dia berubah. Wajahnya lebih putih, lebih bersih dari yang pernah kutemui. Di tengah keramaian aku mencari bekas jerawat yang sangat kurindu, yang ternyata telah hilang entah dimakan produk kecantikan macam apa. Its ok, overall dia semakin ayu. Matanya masih sama, sayu seperti orang yang belum tidur. Memang, dia tipe wanita yang sulit tidur.
Samar-samar aku mendengar alunan lagu leslies-happy entah dari mana. Mungkin dari sound system yang terlihat berjajar di sepanjang Jalan Djuanda, atau mungkin hanya aku yang mendengarnya karena suara itu berasal dari dalam diriku? Masa bodoh, yang penting suara itu datang di waktu yang tepat. Bagai adegan di film CAS, dia bergerak lambat, seraya tersenyum lucu menatapku.
           

Wednesday, September 21, 2011

kantin di sisi danau


                Hari itu, hari yang telah aku rencanakan di balik hari-hari sebelumnya. Hari yang aku tunggu-tunggu dimana akan ada suatu detik dimana aku akan melihat kembali bekas jerawat di pipinya yang samar tertutup oleh senyum panjangnya. Malam sebelumnya dia telah mengatakan padaku akan menemuiku di tempat yang amat ia kuasai. Keluar dari wilayah yang aku miiki. Mendadak malam dengan suasana standar itupun menjadi seperti malam di sierra. Bagai kafein yang tumpah di kedua mataku dan membuatku lama sekali sampai pada bawah sadarku. “Apaan ya yang gua omongin besok?, pake baju yang mana ya?” dan beribu pertanyaan lain yang tak satupun kutemui jawabannya. Hanya bisa berharap filosofi air mengalir membawa diriku lebih dalam masuk ke ruang sanubarinya.

udara malimbu


Kembali udara yang bergerak itu ku rasa
Rasa yang sama seperti di ujung malimbu