Sejarah, dapat diartikan sebagai
sebuah peristiwa yang terjadi pada generasi terdahulu yang dapat dipahami oleh
generasi penerus sebagai cermin dan pembelajaran untuk kemajuan suatu lingkup
yang terkait dengan peristiwa lampau tersebut. Berbicara tentang sejarah, aku
jadi teringat sebuah kalimat indah yang berbunyi “kami bukanlah pendiri candi,
kami hanya pengangkat batu. Semoga generasi yang lebih baik lahir diatas
kuburan kami”. Sebuah paduan menarik dari kata-kata yang mengajak generasi saat
ini meresapi perjuangan generasi sebelumnya dan berbuat lebih untuk kedepannya.
sebuah kapal akan aman bila tertambat di dermaga. tapi bukan untuk tujuan itu sebuah kapal dibuat
Wednesday, December 4, 2013
Wednesday, November 27, 2013
Rembulan dan Pemulung Sinarnya
Sepertinya beberapa satuan waktu silam
media blog ini berisikan tentang petualangan, pengalaman menembus bentang alam,
ataupun kisah tentang bekerjanya adrenalin lebih keras dari biasanya. Bagaimana
kalau kali ini kita meracau kacau tentang rembulan dan pemulung sinarnya?
Setujukah kalian semua? Bagaimana? Hahahaha...terserah kalian terkait pemikiran
kalian tentang kata setuju atau tidak. Asal kalian tahu, aku sedang ingin, teramat
ingin mungkin, membuat tulisan mengenai kisah murahan itu, yang sialnya
terinspirasi dari alur peran kehidupan yang terjalani oleh badan ini. Bukan
untuk menunjukan apa-apa, hanya agar ruangan yang mengatur perasaan dan logika
yang tertanam entah dimana dalam bagian tubuh ini sedikit lega, tidak sumpek seperti
jalan-jalan ibukota yang tiap harinya diserbu berbagai jenis kendaraan berbahan
bakar fosil yang pada akhirnya membuat ibu bumi kita menangis.
Thursday, November 14, 2013
Pengalaman tersesat di gunung, ternyata tersesat memiliki sisi lain
Mendaki
gunung dan camping merupakan kegiatan
yang amat menyenangkan (setidaknya bagi saya) namun juga berbahaya. Mungkin
kalian pernah mendengar beberapa accident
ketika mendaki gunung semisal tersesat, terjatuh, atau bahkan terkena gas
beracun. Semua itu bisa jadi malaikat pencabut nyawa bagi para pendaki. Bisa dikatakan
menjadi resiko yang harus di tanggung untuk kepuasan dan penyaluran hobby.
Tersesat,
ya...tersesat. Saya pernah mengalaminya beberapa kali dalam kegiatan alam liar.
Setiap ketersesatan mempunya rasa yang berbeda-beda, namun sama sama
menakutkan. Saya pertama kali merasakan tersesat di hutan ketika saya melakukan
pendakian pertama saya di Gunung Gede. Waktu itu saya masih kelas 2 SMA dan
ketika itu saya masih buta dengan seluk beluk kegiatan mountaineering.
Wednesday, October 2, 2013
gunung tambakruyung
“Gunung Tambakruyung? Dimana tuh…?”
Mungkin kalimat tanya itu yang akan terdengar ketika seseorang mengatakan
hendak mendaki gunung dengan ketinggan 1994 mdpl itu. Tambakruyung, sebuah
puncakan yang terletak di daerah administrasi kecamatan Ciwidey, Kabupaten
Bandung ini memang kurang terkenal di kalangan penggiat alam secara umum.
Strukturnya yang terjal dan jalur yang samar bahkan nyaris hilang serta banyaknya
percabangan menjadi salah satu faktor mengapa gunung Tambakruyung jarang
didaki.
Transportasi
untuk menuju ke sana tidak terlalu menguras kocek. Dari terminal Leuwi Panjang
anda dapat menumpang bis atau elf jurusan Ciwidey dengan biaya sekitar Rp.
10.000 (tarif berlaku ketika bahan bakar premium seharga Rp. 6.500). Sampai di
terminal Ciwidey anda dapat melanjutkan perjalanan dengan menyewa ojek berbiaya
sekitar Rp. 20.000 atau bila tim anda terdiri dari banyak orang, anda dapat
menyewa angkot dengan biaya sekitar Rp. 65.000.
Tuesday, June 25, 2013
Gowes Bandung - Jakarta
Jam menunjukan
pukul 04.00 di kosan ku di Dayeuh Kolot, Bandung. Aku mengecek kembali
kelengkapan untuk trip hari ini. Jersey sepeda
bertuliskan “Giant”, celana padding, tas,
sleeping bag, dan kotak perkakas, helm,
semua telah komplit. Sembari menunggu azan subuh, aku mengelap helm kuning yang
akan ku kenakan. Hari ini aku akan melakukan hal yang sedikit agak menyentuh
ranah anti mainstream, aku akan
bersepeda dari Bandung menuju Jakarta dengan memilih jalur Puncak, Bogor untuk
ditempuh.
Wednesday, June 5, 2013
Nggenjot Si Mia
Pagi
itu, sekitar pukul 06.00, matahari masih enggan untuk terbit di bumi
Parahyangan. Tapi aku, dengkulku, dan sepedaku sudah siap untuk memutar roda.
Hari itu adalah hari minggu, dan aku berencana akan gowes ke jalan Ir. H. Djuanda, Dago, untuk sekedar refreshing dan menikmati suasana “car
free day” serta sedikit olahraga santai. Tanpa banyak persiapan, pedalpun ku
kayuh dari tempat tinggal ku di Bojongsoang dengan semangatnya. Kadang pelan,
kencang, ganti gigi, sampai ganti gaya pun dilakukan untuk mencoba-coba settingan yang pas untuk “si mia”, sepeda ku.
![]() |
| cekungan bandung dan langit birunya |
Tuesday, May 21, 2013
Romantika di pegunungan tenggara ibukota
Sepertinya
mobil yang ku tunggu tiba. Mini bus silver dengan kaca di samping supir yang terbuka
berjalan lambat menyelinap disela-sela kendaraan yang terparkir, mencari tempat
yang telah kami sepakati sebagai meeting
point. Dan tampak dari kejauhan mobil itu berhenti di sebuah warung yang
berada di area parkir kawasan cibodas, tempat pendaki biasa beristirahat
sebelum memulai pendakian. Tak lama kemudian, beberapa orang keluar dari mobil
itu. Salah satunya adalah seseorang yang membuat udara dingin malam itu
mendadak hangat dan suasana malam yang riuh oleh celotehan para pendaki menjadi
terasa hening di telingaku. Seseorang yang telah lama ku nanti sosoknya dengan
sorot mata sayu yang mampu menyelami setiap seluk kehidupan. Seseorang yang
dengan ajaib memaksa kornea mataku menjadi seperti teropong senapan seorang
penembak jitu yang tak akan melepaskan jangkauan lensa dari intaiannya.
Seseorang yang mampu memutar arah angin hingga menuju ke sisi barat.
![]() |
| eidelweiss dengan kompas dan embun yang menggantung |
Subscribe to:
Posts (Atom)




