Jam menunjukan
pukul 04.00 di kosan ku di Dayeuh Kolot, Bandung. Aku mengecek kembali
kelengkapan untuk trip hari ini. Jersey sepeda
bertuliskan “Giant”, celana padding, tas,
sleeping bag, dan kotak perkakas, helm,
semua telah komplit. Sembari menunggu azan subuh, aku mengelap helm kuning yang
akan ku kenakan. Hari ini aku akan melakukan hal yang sedikit agak menyentuh
ranah anti mainstream, aku akan
bersepeda dari Bandung menuju Jakarta dengan memilih jalur Puncak, Bogor untuk
ditempuh.
sebuah kapal akan aman bila tertambat di dermaga. tapi bukan untuk tujuan itu sebuah kapal dibuat
Tuesday, June 25, 2013
Wednesday, June 5, 2013
Nggenjot Si Mia
Pagi
itu, sekitar pukul 06.00, matahari masih enggan untuk terbit di bumi
Parahyangan. Tapi aku, dengkulku, dan sepedaku sudah siap untuk memutar roda.
Hari itu adalah hari minggu, dan aku berencana akan gowes ke jalan Ir. H. Djuanda, Dago, untuk sekedar refreshing dan menikmati suasana “car
free day” serta sedikit olahraga santai. Tanpa banyak persiapan, pedalpun ku
kayuh dari tempat tinggal ku di Bojongsoang dengan semangatnya. Kadang pelan,
kencang, ganti gigi, sampai ganti gaya pun dilakukan untuk mencoba-coba settingan yang pas untuk “si mia”, sepeda ku.
![]() |
| cekungan bandung dan langit birunya |
Tuesday, May 21, 2013
Romantika di pegunungan tenggara ibukota
Sepertinya
mobil yang ku tunggu tiba. Mini bus silver dengan kaca di samping supir yang terbuka
berjalan lambat menyelinap disela-sela kendaraan yang terparkir, mencari tempat
yang telah kami sepakati sebagai meeting
point. Dan tampak dari kejauhan mobil itu berhenti di sebuah warung yang
berada di area parkir kawasan cibodas, tempat pendaki biasa beristirahat
sebelum memulai pendakian. Tak lama kemudian, beberapa orang keluar dari mobil
itu. Salah satunya adalah seseorang yang membuat udara dingin malam itu
mendadak hangat dan suasana malam yang riuh oleh celotehan para pendaki menjadi
terasa hening di telingaku. Seseorang yang telah lama ku nanti sosoknya dengan
sorot mata sayu yang mampu menyelami setiap seluk kehidupan. Seseorang yang
dengan ajaib memaksa kornea mataku menjadi seperti teropong senapan seorang
penembak jitu yang tak akan melepaskan jangkauan lensa dari intaiannya.
Seseorang yang mampu memutar arah angin hingga menuju ke sisi barat.
![]() |
| eidelweiss dengan kompas dan embun yang menggantung |
Thursday, April 25, 2013
i don't love you - my chemical romance
Well when you go
Don’t ever think I’ll make you try to stay
And maybe when you get back
I’ll be off to find another way
When after all this time that you still owe
You’re still, the good-for-nothing I don’t know
So take your gloves and get out
Better get out
While you can
When you go
Would you even turn to say
"I don’t love you
Like I did
Yesterday"
Sometimes I cry so hard from pleading
So sick and tired of all the needless beating
But baby when they knock you
Down and out
It’s where you oughta stay
And after all the blood that you still owe
Another dollar’s just another blow
So fix your eyes and get up
Better get up
While you can
Whoa, whooa
When you go
Would you even turn to say
"I don’t love you
Like I did
Yesterday"
Well come on, come on
When you go
Would you have the guts to say
"I don’t love you
Like I loved you
Yesterday"
I don’t love you
Like I loved you
Yesterday
I don’t love you
Like I loved you
Yesterday
Tuesday, April 23, 2013
GUNUNG SALAK, PERJALANAN TERAKHIRKAH?
Gunung
Salak, merupakan sebuah bentukan bumi yang mengerucut dengan dua puncakannya
yang terletak di kabupaten Sukabumi. Puncak Salak I dengan ketinggian 2210 mdpl
merupakan puncakan Salak yang sering didaki, sedangkan Puncak Salak II memiliki
ketinggian 2180 mdpl. Gunung salak termasuk dalam wilayah Taman Nasional Gunung
Halimun Salak.
Hari
itu aku bersama seorang sahabat membulatkan tekat untuk mendaki gunung yang
dikenal angker itu. Hanya berdua. Perjalanan ini bisa jadi merupakan perjalanan
terakhir dengannya mengingat sahabat ini lebih dulu menyelesaikan kuliahnya
mendahului aku yang bisa diartikan bahwa dia akan berganti dunia. mulai
merangkak menuju dunia luar yang lebih luas, mengambil tanggung jawab baru yang
akan menyita banyak sekali waktunya. Walaupun aku berharap ini bukan yang
terakhir. Dan aku percaya ini bukan perjalanan terakhirku bersamanya.
Langkah
kami dimulai dari pos pendakian gunung Salak di Bumi Perkemahan Cangkuang,
Cidahu. Setelah menyelesaikan perizinan kami berhenti sejenak di sebuah warung
untuk mengisi perut, kemudian menyusuri jalan beraspal hingga pintu masuk jalur
pendakian gunung Salak. Selepas pintu
masuk pendakian, medan berubah menjadi jalan setapak menanjak dengan batu-batu
yang tersusun rapi. Sejauh ini kami masih melalui jalur yang benar, sama
seperti jalan setapak yang tergambar di peta yang kami bawa.
Sunday, April 7, 2013
PENGABDIAN UNTUK CIMONYONG
Mentari telah singgah ke peraduannya
di ufuk barat bumi. Aku baru saja tiba di base camp panitia, sebuah rumah kecil
yang terbuat dari kayu dengan lantainya yang menggantung 50 cm di atas tanah.
Kami menumpang rumah warga setempat untuk bermalam sekaligus menjadikannya base
camp. Kami di sini, terlibat dalam suatu acara bertajuk pengabdian masyarakat dari Astacala untuk Cimonyong. Mencoba
berbagi dengan keterbatasan dan kelebihan yang kami punya.
Dusun itu
bernama Karang Sari, namun dahulu kala wilayah tersebut dikenal dengan nama
Cimonyong. Konon nama tersebut diperoleh dari perilaku penduduk sekitar yang
kerap memajukan mulut mereka (monyong) untuk meniup tungku berbahan bakar kayu
kering. Dusun yang indah dengan 3 air terjun dan rimba yang masih terjaga
dengan arifnya. Dimana kita bisa mengintip laut di antara bukit yang menjulang.
Jauh dari aroma modernisasi dan segenap kemunafikan yang dilahirkannya. Ketika
pagi hari, matahari menelusupkan sinarnya dengan indah di sela padi yang mulai
menguning.
| pemandangan sawah |
| SD Cimonyong |
| terasering |
Thursday, March 14, 2013
TUJUAN
Adakah yang pernah bertanya tentang tujuan hidupmu? Lalu
apa jawabanmu? Menjadi orang sukses, keliling dunia, membahagiakan orang yang
kamu sayang, atau malah membalas dendam tentang apa yang pernah bersalah
padamu? Yang mana jawabanmu? Lalu setelah tujuanmu tercapai, apa yang akan kamu
lakukan? Apakah cukup sampai di titik itu tujuanmu? Pertanyaan yang
menjengkelkan bukan?
Seseorang pernah mengutarakan pemikirannya kepadaku
beberapa waktu lalu. “lebih baik orang
yang belum mencapai tujuan hidupnya dari pada orang yang telah sampai pada
titiknya”. Aku sama sekali tidak setuju dengan hal itu. Bukankah tujuan
memang harus dicapai? Kalau tidak untuk mencapai tujuan,buat apa kita melakukan
perjalanan?
Tadinya otakku ini masih berpikir bahwa kehidupan mempunyai
tiga pokok permasalahan. Harta, Tahta, Cinta. Ketika ketiga masalah itu dapat
teratasi maka akan senanglah dunia ini, begitukah? Ketika kamu bertujuan untuk
mendaki gunung lalu karena satu dan lain hal kamu gagal mencapai puncaknya,
apakah kamu sepenuhnya gagal? Tidak. Dibalik kegagalan itu ada hal yang tak
kalah indah. Disana ada pelajaran tentang bagaimana kamu berusaha.
Jika kalian bertanya apa tujuan hidupku, maka akupun
belum mendapatkan jawaban itu. Marilah kawan,melalui tulisan ini aku ingin mengajak
kalian untuk berpikir tentang tujuan hidup kalian. Tanyakan pada hati kalian
masing-masing tentang apa yang membuat anda berambisi, terbakar, bahagia,
hingga kalian akan tersenyum melakukannya apapun hasilnya. Ingatlah kawan,
hanya sekali kita dihidupkan oleh Tuhan di dunia ini. Lakukanlah yang terbaik,
karena penyesalan rasanya sakit.
Subscribe to:
Posts (Atom)


