Sunday, June 24, 2012

gunung kendang, cekungan yang garang

Tetesan air hasil konversi uap yang membentuk awan tiba-tiba menyergap di sekeliling perkebunan teh di wilayah desa Tarumajaya kabupaten Bandung sesaat setelah kami menyantap hidangan siang itu. Dengan sigap kami menyiapkan segala peralatan antisipasi atas efek yang bisa ditimbulkan oleh tetesan air tersebut. Gianto memakai ponco ala tentara yang hendak masuk rimba, aku memasang cover bag avtech, Diah nyaman dengan raincoat birunya, sementara Lisna menantang sang cuaca dengan pakaian lapangan berbadge Astacala kebanggaannya.
                         
Perlahan kami menambah ketinggian dihari itu hingga kami memutuskan untuk ngecamp di ketinggian sekitar 2000 mdpl, lebih beberapa meter dari target yang telah disepakati. Sesuai kesepakatan, materi kali ini adalah bivak perorangan. Ya, kami berada di kawasan gunung papandayan, lebih tepatnya punggungan gunung kendang ini dalam rangka latihan Gunung Hutan (GH). Tak sulit bagi mereka mendirikan bivak dari ponco, sebuah ingatan seperti terputar kembali di benak mereka. Suatu masa ketika mereka meniti langkah untuk menjadi keluarga besar Astacala.
                   

Friday, April 20, 2012

setengah botol minuman keras

Udara Jakarta yang ku hirup masihlah sama. Sama seperti ketika suatu masa yang merah, yang kental akan gerombolan emosi muda yang datang dengan mudahnya. Suatu masa ketika rasa bahagia, kecewa, tangis air mata menjadi suatu racikan sempurna untuk melengkapi lembaran kisah muda. Ketika lembut cinta pertama kali membelai sanubari. Ketika kemunafikan menjadi makanan sehari-hari untuk menyembunyikan kebusukan hati. Dan masih tetap sama ketika pertama kalinya aku meninggalkan semua suasana ibu kota untuk waktu yang lama.


Ku coba untuk menutup sejenak pandangan akan dinginnya angin yang menyapa muka sembari menahan asap tembakau yang meresap ke dalam dada. Ku hirup semakin dalam hingga ku rasakan hangatnya tiap mili nikotin yang secara berkala melemahkan tubuh ini. Ku hempaskan warna putih udara yang keluar dari tenggorokan saat nafas ini telah sampai pada batasnya. Putih, pucat, berarak, seraya bersorak.         

Thursday, January 19, 2012

cara mengatasi galau ala Muronialism

"Galau", menjadi kata yang sudah lazim dikatakan anak muda jaman sekarang ini (walaupun berkesan ababil). Rasanya kata tersebut mengena untuk menggambarkan sebuah kondisi dimanakeadaan psikologis sedang bimbang. Tapi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, galau memiliki arti sebuah kondisi bimbang, berat otak (wow), kalut, bingung, ataupun nanar (beda tipis lah). Entah siapa yang mempopulerkan istilah galau hingga booming seperti sekarang ini. 


Menurut analisa pak Mario Teguh, galau terjadi karena ketidakpastian tentang apa yang sedang atau akan terjadi. Hal tersebut menimbulkan sebuah ketakutan jika nanti harapan yang kita miliki tidak sesuai dengan kenyataan. ketakutan tersebut berimbas pada berkurangnya gairah hidup kita (singkat atau lama). Efek yang ditimbulkan adalah rasa cemas yang berlebih, tidak semangat, sampai menangispun bisa terjadi akibat galau. 

Tuesday, December 27, 2011

salah strategi (ga ada duanya) part 2

  "sebuah kapal akan aman bila tertambat di dermaga, tapi bukan untuk tujuan itu kapal dibuat"

Monday, December 12, 2011

salah strategi (ga ada duanya) part 1

selesai nyanyi lazy songnya bruno mars tiba tiba tanpa rencana muterlah lagunya ipank yang judulnya sekali lagi dari playlist ade gw di mobil. lagu yang udah lama gw lupain, dan sekarang mengisi kabin dengan pemandangan pinggir pantai anyer dan pohon-pohon kelapa yang berlarian serta angin yang masuk dari jendela mobil yang baru gw buka setelah lagu ini muter. ga sanggup gw melawan setiap jengkal kenangan yang bertubi-tubi menyerang dan berusaha masuk ke otak meminta untuk segera diputar. dan akhirnya, mereka sukses.

film di otak gw diawali dengan munculnya sesosok wanita berkerudung dengan kemeja putih dan rok panjang warna biru dongker berjalan dari lorong sebuah gedung dan menyapa dengan menyodorkan map warna coklat sambil berkata "mana punya lo? masukin trus kumpulin nih". di awal-awal kuliah di bandung, dimana

Tuesday, November 29, 2011

teorema trigger versi muronialism

ternyata teori sebagian orang termasuk saya yang berpendapat bahwa untuk melakukan sesuatu yang dianggap penting dalam hidup seperti tobat, TA, berhenti merokok, berhenti nganggur (minum anggur), dan hal-hal besar lainnya perlu adanya trigger (pemicu) bisa di anggap benar. secara teori, pemicu perubahan ini (saya lebih suka menyebutnya teori menang banyak) berfungsi seperti katalis dalam reaksi kimia. tanpa adanya katalis, reaksi tidak akan pernah terjadi meskipun konsentrasi kedua zat telah mencapai titik jenuh. 

tapi saya tidak sependapat jika untuk bergerak ke arah yang lebih baik kita bersikap menunggu datangnya trigger tersebut. jika hal itu dilakukan maka tak ubahnya kita seperti menunggu durian runtuh. ketika masih di pohon, kita cuma bisa menunggu. dan pada saatnya runtuh, durian itu akan berbahaya bagi keselamatan kita. kenapa kita tidak mencari trigger semisal galah, atau ketapel? menurut muronialism, trigger harus di cari. nah, di postingan ini saya akan menjabarkan macam-macam trigger versi muronialism.

  1. cinta. alasan ini meurut lembaga survey menempati urutan pertama penyebab seseorang melakukan

Saturday, November 12, 2011

bocah produk polusi jakarta, (jakarta lama yang ia rindu)

19 februari 1989, seorang bocah manusia telah lahir diantara jutaan anak manusia, anak jin, anak setan, dan anak hewan yang lahir pada hari itu. Di sebuah huma dipojokan kota jakarta (sekarang daerah itu sudah menjadi bagian dari pusat kota jakarta) si bocah mendendangkan tangis pertamanya. tangisan yang disambut tangis bahagia dari kedua orang tuanya. si bocah ditimang manja, di azani, di nyanyikan lagu-lagu yang pastinya si bocah belum mengerti. kelahiran si bocah ke dunia seperti menjelma menjadi tempat curahan kasih sayang orang tuanya.  

mau tak mau bocah itupun tumbuh, karena memang si bocah diberi makan. Belajar apapun dari apapun dan siapapun. segala polesan kasih sayang maupun penderitaan silih berganti ia terima setiap hari. kedua orang tuanya tanpa henti memberikan yang terbaik, mendidik, memberi filosofi-filosofi dengan satu harapan agar sang bocah menjadi manusia yang baik meski diselimuti lingkungan yang kurang baik. lingkungan ibukota.

disebuah gang yang setiap lima tahun sekali didatangi oleh banjir, bocah yang masih kecil itu mengukir nafas demi nafasnya. udara polusi jakarta menjadi sahabatnya yang setia. yang ia tahu hanyalah bermain dan belajar hal-hal baru yang menurutnya menarik, tanpa beban dan tuntutan. polos, seakan tak peduli apa yang akan ia hadapi nanti. 

si bocahpun memasuki masa sekolah. pagi-pagi si bocah sudah rapi dengan baju seragam dan dasi. belajar mengikat tali sepatu yang selama dua minggu belum bisa ia kuasai. memakan telur dadarnya serta menghabiskan susunya (yang beberapa tahun kemudian si bocah lebih memilih kopi dari pada susu). tak lupa ia mencium punggung tangan kedua orang tuanya. berangkat riang menuju ke sekolah dengan tas yang terlalu besar untuk ukuran tubuhnya, karena memang tidak ada tas yang sesuai dengan tubuhnya yang mungil. bukan karena pelajaran yang membuatnya begitu, tapi karena alasan-alasan khas kanak-kanak seperti main kelereng, main bola, main gimbot, dan permainan khas anak-anak lainnya.